Epistemologi Hati

 

Boleh saja positivisme membagi bagi segala hal yang ada di dunia ini dengan garis imajiner yang memisahkan kedua sisi. Dengan segala pertanyaan mengenai keabsahan dan pertanggungjawaban terhadap landasan mereka dalam menarik garis tersebut. Namun tetaplah dalam hidup ini kita kerap mengalami dilema dan kontradiksi yang bahkan kita tak tahu bagaimana cara mengaturnya. Apalagi menyelesaikannya. Kita kerap secara bersamaan menyukai dan membenci sesuatu. Atau mengupayakan sesuatu meski sadar pencapaiannya berada diluar jangkauan kita. Atau bahkan bergantian secara simultan, menjalani apa yang kita yakini dan mengingkarinya.

Mungkin, alasan terbesar mengapa kalam Ilahi diturunkan dalam bahasa arab adalah karena bahasa arab adalah bahasa yang paling mumpuni dalam mengakomodasi konsep konsep yang dimaksudkan oleh-Nya. Hati, dalam terminologi Quran adalah قلب (qalb). Jika menilik melalui kajian ilmu sharaf yang mempelajari strukur pembentukan dan perubahan kata dalam bahasa Arab (Morfologi), kita akan menemukan bahwa kata qalb memiliki akar kata yang sama dengan kata membolak balikkan (qallaba-yuqallibu). Dua kata tersebut, qalb dan qallaba, nyatanya disebutkan secara bersamaan pada salah satu doa yang biasa dibaca setelah shalat yang mengharapkan ketetapan hati dalam menjalani perjalanan kebenaran menuju keharibaan-Nya.

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك وإستقامتك

Yaa Muqalliba-l-qulub. Tsabit qalbii ‘alaa diinika wa istiqaamatika.

Wahai tuhan pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu dan keistiqomahan menjalani agama-Mu.

Dan jika kita memandang hati, sebuah alat yang mengatur sensitivitas kita dalam menilai segala sesuatu, dengan pemahaman bahwa secara hakikat ia memang mudah dibolak balik atau terbolak balikkan, kita akan berhati hati ketika bersandar kepadanya. Dengan cara mengelaborasikan potensinya dengan kejernihan akal. atau mengupayakannya untuk dapat mendampingi kita merangkai perjalanan kembali ruh menuju Sang Pemilik segala permulaan.

Wallahu a’lam Bishawaab

 

 

Iklan