Tradisi Sebagai Sebuah Proses Komunikasi

_53330218_jex_1071761_de27

Pada saat ini, banyak kita temukan upaya penerjemahan kembali tradisi sebagai dampak globalasasi yang memaksa banyak pihak  untuk terus berkompromi. Hal ini kemudian dirasa penting, mengingat identitas sebuah kelompok masyarakat yang meliputi nilai dan norma, pada titik tertentu cukup rentan apabila  harus dikompromi. Selain itu semakin dominannya homogenitas dikalangan masyarakat juga mendorong banyak pihak untuk kembali melakukan pencarian nilai nilai baru yang sulit diakomodasi oleh proses globalisasi. Dalam bidang desain sendiri, dapat kita lihat kecenderungan yang besar untuk kembali mengangkat tradisi sebagai inspirasi kreasi pada saat ini.

Para desainer dengan kegairahan yang besar untuk memanifestasikan nilai nilai tradisi dalam sebuah objek desain ini meyakini bahwa proses ini adalah sebuah upaya untuk menghidupkan kembali kedalaman nilai nilai tradisi ditengah kedangkalan nilai dalam keseharian kita saat ini. Mengingat tradisi adalah warisan leluhur yang termatangkan oleh waktu, sehingga cukup untuk menjadikannya sebagai salah satu substansi penting bagi kehidupan kita sebagai generasi penerus. Terlepas dari tingkat kedalaman eksekusi mereka dalam mewujudkannya, apakah sekedar mengadopsi bentuk, teknik, utilitas, maupun secara konsep, proses ini pada nyatanya sedang marak dilakukan oleh para desainer.  Gagasan ini nyatanya bukan tanpa sanggahan, mengingat pemahaman mengenai tradisi itu sendiri masih cukup divergen. Sehingga urgensi transformasinya untuk kehidupan saat ini pun juga masih menimbulkan pro dan kontra.

Sebagian pihak mengatakan tradisi sebagai sebuah nilai baku yang sakral, sehingga upaya untuk mengubahnya merupakan sebuah larangan. Sedang yang lain mengatakan bahwa tradisi adalah sebuah entitas dinamis sehingga perlu dilakukan penyempurnaan secara konstan. Dan adapula yang menggangap tradisi sebagai barang usang yang sudah kehilangan relevansinya ditengah kehidupan modern saat ini. agar tidak terjebak pada perdebatan kontraproduktif, perlu dilakukan banyak upaya pembacaan kembali makna tradisi, dalam upaya memperluas pandangan kita sebagai usaha pencapaian pemahaman yang lebih baik dan lebih matang.

Tradisi sendiri pada dasarnya mengandung berbagai nilai dan norma. Serupa halnya dengan hubungan antara ilmu pengetahuan dengan informasi yang disampaikannya. Dan Sepert halnya ilmu pengetahuan yang membutuhkan sebuah medium untuk mentransfer informasi yang dimilikinya, demikian halnya dengan tradisi yang membutuhkan medium untuk menyampaikan nilai dan norma yang coba dikomunikasikannya. Dan dalam hal ini keduanya menggunakan sebuah medium yang seragam yaitu bahasa. bahasa pada arti ini merupakan bahasa dalam pengertian yang luas, baik bahasa teks, bahasa rupa, hingga bahasa gestur.

Meskipun bahasa yang digunakan oleh ilmu pengetahuan serta tradisi terdiri atas berbagai macam bahasa, terdapat substansi substansi yang selalu ada dan membentuk suatu bahasa, yang dapat kita gunakan untuk memahami dengan lebih baik peran serta fungsinya dalam proses komunikasi ilmu dan tradisi. Bahasa, sebagaimana telah disampaikan merupakan sebuah medium untuk berkomunikasi. Dan komunkasi selalu melibatakan dua pihak atau lebih. dan untuk mewujudkan satu proses komunikasi yang berhasil, diperlukan adanya kesepahaman antara pihak penyampai informasi dengan pihak penerima informasi. Maka untuk mencapai kesepahaman itu sendiri, kedua pihak tersebut membutuhkan bahasa yang dipahami dengan baik oleh keduanya. Kesepahaman ini tentu pada proses pembentukannya membutuhkan sebuah konvensi, yang memaksa keduanya untuk berada dalam batas batasnya dan melaksanakan instruksi penggunaannya. Aturan ini cenderung bersifat statis, dalam upaya menjaga konsistensi penggunaannya, meski praktek penggunaannya cenderung lebih bersifat dinamis akibat keadaan zaman yang terus berubah.

Maka memandang tradisi sebagai sebuah proses komunikasi yang kontinual dan dinamis, memberikan kita pemahaman bahwa bersikap pasif dalam merespon tradisi sendiri merupakan sebuah kegagalan. Pasif dalam artian abai dalam proses artikulasi bahasa yang kita gunakan pada saat ini, guna membangun kesepahaman yang ideal dengan bahasa yang diartikulasikan tradisi itu sesuai dengan zaman pembentukannya. Yang berkosekwensi pada kegagalan proses komunikasi tradisi itu sendiri.

Sehingga akan lebih baik sekiranya sebelum bersilang pendapat mengenai relevansi maupun urgensi, hingga pencarian substansi sebuah tradisi pada saat ini, kita pahami lebih dahulu aspek aspek penting yang menjadi syarat  keberhasilan proses komunikasi sebuah tradisi. Yang memungkinkan terjadinya dialog dan tindakan lebih lanjut lainnya yang sekiranya dapat memperkaya dan memperluas pandangan serta penafsiran kita terhadap tradisi itu sendiri.

Meminjam sebuah petikan falsafah;

Sebuah cara penyampaian, lebih penting dari apa yang disampaikan

Dan penyampai, lebih penting dari cara penyampaiannya

Dan jiwa penyampai, lebih penting dari penyampai itu sendiri

Maka bila kita coba tafsirkan dengan persoalan yang kita bahas, dapat kita simpulkan bahwa terlepas dari konten sebuah tradisi maupun subyek penyampai tradisi, jiwa (karakter, pengetahuan, kedewasaan, kebijaksanaan) para subyek yang terlibat dalam proses komunikasi tradisi (pewaris dan ahli waris tradisi) merupakan aspek terpenting yang menjadi substansi keberhasilan proses penyampaian sebuah tradisi.

Mana yang lebih dulu, desainer pintar atau konsumen pintar?

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya sedang dalam masa magang, saya diajak oleh bos tempat saya magang untuk ikut bersama beliau berkumpul dengan rekan rekannya sesama desainer muda. Di mal senayan city itu saya lantas disuruh oleh beliau untuk berkunjung ke salah satu toko, yang saya sendiri sebagai anak kampung baru pertama kali tahu, KARA namanya.

Sesudah beberapa saat berkeliling di toko tersebut, saya lantas mengobrol dengan bos saya. Hingga pada akhirnya terucap pertanyaan dari saya, “sebenarnya siapa yang harus dididik terlebih dahulu? Pasar atau desainernya? “

Bos saya kemudian dengan ringan memberikan argumennya bahwa secara logika, bahwa semua objek yang berada dipasar pada saat ini, tentu tak lepas dari pengaruh desainer yang merancangnya. Dan para konsumen, pada akhirnya hanya memilih dan mengkonsumsi barang yang ada, yang pada tahap selanjutnya secara tidak langsung juga turut membangun preferensi dan trend yang terjadi diantara para konsumen pasar. Sehingga jelas bahwa desinerlah yang seharusnya memiliki tanggung jawab terbesar mengenai tren dan selera konsumen yang terbangun di pasaran pada saat ini.

Dilain waktu, ketika sedang berkunjung di salah satu perusahan percetakan di Jepang, yang juga banyak berinovasi bidang IT, pak irvan noeman yang pada saat itu kebetulan berada cukup dekat dengan saya, berujar “ disini, semuanya dituntut untuk membuat pisang hijau .” saya menyimak dengan seksama, dan berusaha sekeras mungkin untuk mencerna dan memahami maksud dibalik pernyataannya. Mencoba mengingat kembali materi presentasi yang beliau bawakan di kampus beberapa minggu sebelumnya.

Berdasarkan ingatan saya, pak Irvan menganalogikan desain yang inovaitf sebagai pisang hijau, sedangkan desain yang sudah ramai dipasaran sebagai pisang kuning. dan layaknya pisang sebenarnya, pisang hijau seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi pisang kuning, seperti desain inovatif yang hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi umum dipasaran. Dan sebagai desainer, kita dituntut untuk dapat merumuskan sebuah produk inovatif, yang ketika diluncurkan berada dalam kondisi setengah hijau dan setengah kuning. cukup inovatif namun tetap mampu untuk dengan cepat diterima dipasaran.

Saya kemudian menduga, bahwa maksud penyataan beliau adalah proses perancangan desain di Jepang, sebuah Negara dengan tingkat penguasaan teknologi yang tinggi serta indeks pembangunan manusia yang baik, sudah berada dalam satu kondisi yang demikian kompetitif. Yang pada akhirnya hanya menyisakan inovasi sebagai kunci untuk bersaing  bagi perusahaan. sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar yang ada pada saat ini. Mungkin lebih singkatnya, orang jepang saat ini sudah cukup banyak yang bisa makan pisang yang masih hijau.

Dari kedua obrolan tersebut, saya coba Tarik benang merah mengenai hubungan antara desainer, pasar, dan kompetitor di pasar. bahwa alur produksi, sebagaimanapun padat riset dan datanya, pada esensinya selalu memaksa konsumen untuk sekedar menerima dengan pasif produk produk yang diklaim sebagai solusi dan kebutuhannya. Akan tetapi patut untuk juga diperhitungkan, karakteristik pasar serta para pesaing perusahaan, dalam kaitannya dalam alur produksi tersebut.

Jika seadainya orang orang dipasar anda berjualan pisang masih lebih suka pisang yang setengah hijau dan setengah kuning, maka tetaplah pada pola pengantaran pisang anda, yang memetik ketika masih hijau, dan menjual ketika sudah menguning.

Tapi bila orang orang dipasar sudah banyak yang dapat mengunyah pisang ketika masih hijau, maka ubahlah cara berfikir dan pola dagangan anda. Karena para penjual lain pasti juga berlomba lomba untuk menawarkan produk yang konsumen minta.

Pada akhirnya siapa yang harus dituntut pintar terlebih dahulu? Desainer atau konsumen? Mungkin sebaiknya harus kita sepakati terlebih dahulu definisi pintar yang kita bicarakan. Sebagaimana produksi dimulai dari desainer kepada konsumen, mungkin lebih tepat apabila kita katakan bahwa menjadi cerdik merupakan syarat mutlak bagi seorang desainer. Pintar dalam menganalisa dan mengakumulasi berbagai faktor pertimbangan yang ada di pasar, dan mampu secara cerdik melihat peluang dan merancang strategi produksi produk yang mampu diterima di pasar. karena pada kenyataanya karakteristik konsumen lebih cenderung bersifat akumulatif. Bahkan tak jarang, perubahan signifikan di pasar dan karakteristik konsumen juga lebih banyak didorong oleh produk produk yang dimunculkan oleh desainer.

Desainer, adalah pewujud akumulasi abstrak berbagai faktor yang terjadi di masyarakat. dan bahkan kita sendiri cendrung menyadari suatu hal, baru ketika ia telah diwujudkan dalam satu objek maupun diskursus.

what is design? ( its totally not a description, just reading summary )

Sebagaimana saya membenci hiburan, ketika banyak waktu menghadang tanpa agenda kongkret yang siap untuk dilaksanakan, waktu berjalan dengan lama, sehingga dengan terpaksa hidung ini  harus menghirup tiap partikel waktu yang tersiakan. anyway, saya sedang mencoba mengurangi kebiasaan mengerikan itu sekarang, dengan kegiatan yang terdengar klasik, membaca buku. sebagai langkah kecil untuk mengembangkan kualitas saya sebagai mahasiswa desain, atau langkah mengikis klasifikasi kompeten yang rapuh, saya membaca buku mengenai desain. and, here some content i get,  semoga dapat bermanfaat.

DESAIN ADALAH SEBUAH AKTIFITAS YANG DIIKUTI DENGAN PROSES KREATIF DAN FANTASI KREATIF, SEMANGAT INNOVASI DAN INOVASI TEKNIS. PROSES DESAIN SERINGKALI DIARTIKAN SEBAGAI SERANGKAIAN AKSI KREASI.

Bagaimanapun juga desain tidak dapat secara vakum, dalam artian, bebas dalam memilih warna, bentuk dan material. setiap objek desain adalah hasil dari proses pengembangan yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi dan keputusan. sosio-ekonomi, teknologi,  dan perkembangan kultural, sejalan dengan dengan sejarah historikal dan kondisi produksi teknologi, memiliki peran yang penting  sebagaimana dengan ergonomi, kebutuhan ekologi, ekonomi, dan pengaruh politik.

Seiring berjalannya waktu, saat  globalisasi berjalan dengan sangat cepat, membuat metode desain  subjektif dan emosional perlahan mulai ditinggalkan. memaksa para desainer untuk bekerja lebih keras dalam mengintegrasikan metode metode saintifik dalam proses mendesain, sehingga dapat diterima dalam jangkauan industri. maka dari itu, desainer masa depan dituntut untuk dapat berfikir secara logis dan sistematik.

Akan tetapi, perkembangan dunia yang semakin kompleks dari hari kehari, menjadaikan para desainer mustahil untuk dapat mengintegrasikan segala segi permasalahan yang perlu dipecahkan, sebagai acuan dasar dalam mendesain. sehingga praktis, diperlukan pembelajaran teori sistem untuk membantu para desainer berfikir holistik dalam mendesain. mengubah pertanyaan mendasar dari bagaimana mendesain menjadi produk apa yang harus didesain.

DESIGN  history, theory and practice of product design

Birkhauser-

The long, long (long) road for algae fuel

thelimitresister:

its awesome

Originally posted on Gigaom:

Earlier this week algae fuel startup Sapphire Energy announced that it’s in the process of raising a whopping $144 million from private investors, which will be used to build out its first commercial demonstration algae farm in New Mexico. That farm could be able to produce 1.5 million gallons of Sapphire’s green crude per year by 2014, says Sapphire’s VP of Corporate Affairs, Tim Zenk.

That might sound impressive, but it’s a far cry from the company’s previous projections. Back in 2009, Sapphire was hoping its algae farm would be able to produce 1 million gallons of green crude per year by 2011, followed by 100 million gallons per year by 2018, and 1 billion gallons per year by 2025. When Sapphire made those projections, the sheer volume was so much more than any of their competitors were putting out there, that I asked if Sapphire was going to…

View original 471 more words

ketika kebenaran dan kebohongan menjadi telalu bias

Image

hiruk piruk permasalahan dunia semakin tidak terbendung. problematika kehidupan semakin carut marut. seakan benang yang tak akan dapat diulur. tumpang tindih kekuasaan dan saling berebut kepentingan, menjadi dorongan bagi berbagai pihak dalam menjalankan ego pragmatis guna mencapai tujuan apatis.

berbagai cara dihalalkan, berbagai jalan dupayakan, bahkan berbagai fakta diaburkan. 

semua demi satu tujuan, demi satu angan, tak berparadigma, dan tak berlogika. maka ketika setiap proses ini berlangsung secara langsung didepan mata telanjang kita, pada setiap lini kehidupan kita, 

sebuah hukum alami pun tegak dengan sangat mengerikan. 

kapitalisme, demokrasi, dan segala hukum yang umum lainnya, sejatinya sudah dapat secara gamblang mengambarkan betapa buruknya semua ini berjalan. mayoritas yang menindas minoritas, penguasa yang menginjak, meludahi, dan memasung mereka yang lemah tidakkah cukup untuk membuat mata kita tebuka lebih cepat? ketika kebohongan dan kebenaran sudah berada pada satu titik yang paling mengkhawatirkan. 

satu tahap, dimana keduanya menjadi begitu bias. suatu tahap dimana keduanya, tak lagi menjadi penting. suatu masa dimana kebenaran tercabik segala entitas dan esensinya. 

itulah suatu masa dimana hidup kehilangan esensi fundamentalnya, yaitu saat kita tak mampu menimbang yang baik dan yang benar. 

understanding principle of design and art

ternyata dalam proses pemahaman konsep konsep serta prinsip utama dalam desain dan seni, diperlukan praktek nyata yang dibarengi dengan pemikiran yang kritis. hal ini dikarenakan, pemahaman prinsip seni yang baik, tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan praktek maupun pemahaman semata. Imageprinsip prinsip seperti keseimbangan, kesatuan, reduplikasi dan lain sebagainya mungkin tidak dapat dipahami secara maksimal dalam satu usaha yang singkat. karena meski membutuhkan waktu yang tidak instant dan perlu tahapan, justru dalam proses tersebutlah pemahaman kita dapat semakin termantapkan. latihan latihan serta praktek, sebagaimana saya alami, telah membantu meningkatkan kepekaan saya dalam berkarya. 

so its ok that we use to practice more and more in order to understand those principles, cause as long as we did, it train our sense when designing or creating something. Image