Proses Sintesis dalam Praktek Legislatif

Sekitar dua tahun yang lalu, ketika masih tergabung dalam kabinet KM ITB dalam Kementian Kebijakan Nasional, saya mengikuti satu acara diskusi yang membahas seputar kurikulum pendidikan 2013. Pada kesempatan itu Pak Iwan Pranoto, seorang kritikus pendidikan dan juga dosen FMIPA ITB, memaparkan beberapa poin penting yang menunjukkan berbagai kekurangan kurikulum 2013. Dari beberapa poin tersebut, satu yang paling saya ingat karena menarik bagi saya adalah bagaimana ketidakmampuan menerjemahkan konsep menjadi program kerja berpengaruh besar dalam menentukan kualitas kebijakan kurikulum tersebut.

Pak Iwan saat itu menegaskan, bahwa di negeri ini ada banyak pemikir dan pakar di dunia pendidikan yang berkualitas dalam merumuskan konsep kurikulum yang memang membutuhkan perubahan dan perbaikan. Pun juga banyak para praktisi pendidikan yang mengetahui dengan baik permasalahan serta problematika proses pelaksanaan pendidikan di berbagai tingkatan. Akan tetapi, di dalam tim perumus kurikulum pendidikan tahun 2013 yang memang diisi baik oleh pakar serta praktisi pendidikan tersebut, tidak terdapat individu yang mempunyai kemampuan dalam menerjemahkan konsep abtrak yang idealis menjadi poin dan program kerja yang sifatnya pragmatis. Yang menghasilkan banyak paradoks antar konsep dengan kebijakan konkret. Sebagai contoh bagaimana konsep kurikulum baru ini mendorong pengembangan kreativitas siswa, namun dalam kebijakan mengenai parameter keberhasilan proses mengajar disebutkan bahwa seorang peserta didik harus mampu untuk menyebutkan nama nama benda dalam jumlah yang sudah ditentukan.

Di lain, dalam studi metodologi desain, terdapat satu tahapan krusial yang determinan dalam proses desain. Tahapan sintesis, dimana data empiris diolah dan diinterpretasikan, merupakan tahapan krusial yang banyak menentukan hasil akhir dari suatu proses perancangan/desain. Di tahap inilah kemampuan serta daya imajinasi seorang perancang/desainer banyak diuji dan dibuktikan, meski pendekatan yang digunakan cukup berbeda antar satu sama lain. kemampuan untuk mengaitkan esensi peremasalahan dengan banyak hal ini cukup berpengaruh, mengingat banyak pemecahan masalah dan inspirasi dari berbagai konteks lain justru berpotensi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi.

Satu hal yang penting untuk dicatat adalah meskipun dalam tahapan sintesis ini banyak dibutuhkan daya imajinasi yang subyektif, tujuan utama dari tahapan ini adalah upaya pencarian pola yang konsisten (pattern finding) dari data yang diperoleh. Jadi meski tidak benar benar dapat dikatakan obyektif, output dari tahapan ini bukan tidak dapat dijelaskan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa keberhasilan seorang perancang dalam tahapan sintesis, memerlukan pemahaman yang baik terhadap masalah serta konteks masalah yang coba ia selesaikan. Yang kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan pertanyaan yang tepat terkait masalah tersebut, dan menghubungkannya dengan poin poin terkait yang mampu untuk direkayasa sehingga dapat dimunculkan alternatif alternatif pemecahan masalah.

Dengan mengaitkannya dengan contoh kasus diatas, saya berkesimpulan bahwa tahapan sintesis dalam metode mendesain ini sebenarnya cukup relevan untuk digunakan dalam proses penetapan sebuah kebijakan/legislatif.

Sebagaimana setiap kebijakan selalu dilandaskan atas konsep konsep besar yang idealis, upaya penerjemahannya menjadi kebijakan yang pragmatis tentu membutuhkan kemampuan sintesis yang baik. sehingga kebijakan yang ditetapkan dapat merepresentasikan konsep yang melandasinya dengan baik sekaligus membantu upaya pencapaian tujuan yang dikehendaki. Hanya saja tentu membutuhkan usaha lebih, mengingat konsep konsep kebijakan tersebut cenderung bersifat abstak dan metafisis. Akan tetapi dengan pemahaman terkait masalah dan konteks masalah serta daya imajinasi yang baik, upaya penerjemahan konsep menjadi produk kebijakan yang konkret tentu akan dapat dilaksanakan dengan lebih baik. (19/4/2015)

*picture source : mccumberdaniels.files.wordpress.com

Iklan

Diterbitkan oleh

dudin abdurrahman

moslem.bandung.designer in making.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s