Desain, Praktek Idealis atau Pragmatis?

kecak-dance1Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang pakar Antropologi yang mengajar di Universitas Padjajaran sebagai keperluan penyusunan materi Tugas Akhir. Pada kesempatan itu, selain mendapatkan banyak masukan yang penting, beliau secara tidak terduga mengemukakan satu gagasan yang cukup mengejutkan bagi saya sebagai seorang mahasiswa yang mempelajari disiplin ilmu perancangan objek.

Beliau berujar, dalam kapasitasnya sebagai seseorang yang mengetahui dengan baik kondisi masyarakat saat ini, bahwa sebagaimana fungsi obyek diniatkan untuk mencukupi kebutuhan penggunanya, maka segala aspek perancangan obyek mulai dari rumusan masalah, metodologi perancangan, dan atribut serta fitur yang ditawarkan oleh si perancang harus selalu dilandaskan atas kebutuhan faktual target pengguna tersebut.

Hal ini sekilas terlihat wajar, akan tetapi yang sejatinya menimbulkan kegalauan bagi saya adalah pesimisme beliau dalam memandang peran desain sebagai sebuah instrumen rekayasa kebudayaan dalam suatu masyarakat. hal ini beliau paparkan dalam menerangkan mengenai maksud dan kondisi kebudayaan dalam kehidupan manusia dewasa ini. sebagaimana kita telah hidup ditengah arus transfer informasi dan teknologi yang demikian masifnya, hal ini telah banyak mempengaruhi diri kita secara pribadi maupun masyarakat kita secara kolektif. Yang pada akhirnya menggeser makna kebudayan kita sebagai sebuah sistem nilai dan identitas, akibat perubahan tatanan nilai kita yang terus dipengaruhi oleh kondisi dan lingkungan hidup kita pada saat ini. kebudayaan, ujar beliau, saat ini sudah menjadi terlalu “licin” untuk dapat kita tambatkan pada satu titik dan dalam tiang tiang pembatas tertentu. Dan sebagaimana desain selalu menggunakan pertimbangan aspek kebudayaan target penggunanya dalam proses perancangan, baik sebagai pembatas maupun gaya (gimmick) dari sebuah desain yang dirumuskannya, hal ini menjadi ambigu mengingat definisi budaya macam apa yang kita maksud dan rujuk, melihat budaya saat ini sudah terlalu licin untuk didefinisikan sekalipun oleh para ahli Antropologi. Yang pada akhirnya jelas memberikan pertanyaan besar mengenai tahapan perancangan yang selama ini digunakan oleh seorang desainer.

Dalam proses desain sendiri kita tahu ada tahapan sintesis, dimana seorang perancang mencoba menelurkan sebuah solusi kreatif terhadap satu permasalahan dengan mencari inspirasi dari berbagai bidang maupun dengan menempatkan karakter masalah tersebut pada satu konteks baru. Tahapan ini sangat krusial, karena ia cukup banyak menentukan outuput yang dihasilkan oleh seorang perancang, sehingga dibutuhkan pola fikir yang terbuka dan informasi yang luas untuk dapat menentukan satu pilihan yang tepat. Kebudayaan sendiri telah lama digunakan sebagai sumber inspirasi yang kaya bagi para desainer dalam proses perancangan. Pun tidak sedikit berbagai usaha perancangan yang tujuan akhirnya adalah untuk mengubah maupun mengintervensi satu keadaan budaya satu kelompok masyarakat. dan apabila kita merujuk kembali pada argumen mengenai ambiguitas definisi budaya yang dirujuk oleh desainer pada satu tahapan perancangan, maka patut pula kita pertanyakan kapabilitas serta realisasi peran desain dalam mengintervensi kebudayaan suatu masyarakat.

motor-naik-trotoar_beffyKeraguan mengenai peran desain ini didukung pula oleh kesangsian beliau terhadap argumen para Budayawan yang dianggapnya terlalu idealis sehingga banyak menafikan kondisi lapangan pada saat ini, ujarnya dalam kapasitasnya sebagai seorang Antropolog yang selalu menggunakan metode empiris dalam mengkaji suatu masyarakat. ini cukup telak, mengingat sebelumnya saya juga telah bertemu dengan salah seorang pakar budaya.

Dan ketika saya bertanya, bilamana terlalu mustahil bagi sebuah desain untuk dapat merekayasa satu budaya masyarakat, apakah yang niscaya terjadi bila kita memandang desain dalam kapasitasnya sebagai sekedar sebuah “upaya” untuk mengintervensi budaya tersebut. jawaban beliau adalah kemungkinan besar desain yang kita tawarkan hanya dapat berwujud variasi motif maupun gimmick visual, yang menurut dosen saya merupakan satu proses rekayasa yang “rendah”.

Terlepas dari kebenaran pandangan beliau mengenai hal ini, setidaknya hal ini merupakan sebuah refleksi yang berharga bagi saya dalam memandang desain sebagai suatu upaya perancangan. Yang kemudian tentunya mendorong kita untuk berfikir lebih jauh dalam merespon pandangan ini. karena ketika saya bertanya pada beliau terhadap kemungkinan desain dalam merekayasa perilaku seseorang, dengan ringan setengah tertawa beliau menjawab, “ jangan ngimpi lah, haha.”

*sumber gambar: 3.bp.blogspot.com, asmarantaka.files.wordpress.com

Iklan

Diterbitkan oleh

dudin abdurrahman

moslem.bandung.designer in making.

4 tanggapan untuk “Desain, Praktek Idealis atau Pragmatis?”

  1. tulisannya bagus din, membuat gue gemes pengen komen hahaha..

    Gue cukup tercengang sih membaca respon si dosen saat ditanya tentang merekayasa perilaku seseorang, dengan ringan setengah tertawa beliau menjawab, “ jangan ngimpi lah, haha.” .

    Maksudnya dari sini saja kelihatan, ilmu desain masih dianggap hanya handle bagian pelipis luarnya saja, karena memang kalau diperhatikan desain indonesia sampai saat ini belum ada yang mampu merekayasa perilaku. Mungkin beda cerita seperti Magno, setelah menonton semua presentasi dan mengkaji kembali, kebanyakan lebih merekayasa mindset-nya, yang kemudian berimbas kepada perilaku.
    Tapi suatu desain Indonesia yang straightforward merekayasa perilaku, setahu gue sih belum ada lagi din.

    Mengkomentari soal rekayasa perilaku, jadi teringat soal “Affordances”. Affordances, atau mungkin di DP kita kenal masuk di ranah Semantika, adalah hubungan suatu lingkungan atau objek dengan subjek, yang menjadi pemicu untuk melakukan aksi. Contohnya ya seperti knob pintu berbentuk bulat membuat subjek membuka dengan cara memutar. Hal ini dikemukakan bukan oleh seorang desainer produk, melainkan oleh Psikologis James J. Gibson, tahun 1977 .
    Intinya adalah dari dulu ilmu psikologi (mungkin masuk di dalam ilmu Antropologi) meyakini bahwa bentuk dapet mempengaruhi perilaku dan memiliki hubungan erat antara desain dan psikolog, tapi kenapa di Indonesia hal ini tidak terjadi ?

    Perihal soal budaya yang semakin tidak menentu akibat informasi yang masif sehingga oleh seorang Antroplogi pun sulit menyimpulkan, pengen tahu memangnya biasnya sebesar apa sih ? Apakah bisa diukur, atau setidaknya bisa dijadikan referensi kembali sehingga bisa tahu batasan – batasannya apa saja yang bisa dan tidak bisa dikompromi ?
    Kalau dari pendapat pribadi, biasnya sampai tidak akan sebesar itu sehingga harus lebih angkat tangan dalam mendefinisikannya.

    1. sebelumnya makasih udah mau komen zan haha, terlepas dari kegalauan pendapat pribadi gw terkait pandangan beliau, seenggaknya yang cenderung gw tangkep dari maksud perubahan perilaku menurut beliau ini lebih dalam cakupan luas. contohnya aja mengubah kebiasaan orang biar nyebarang cuma di zebra cross. kalo contoh yg lo kasih sih, menurut gw meskipun masih bisa dikatakan mempengaruhi perilaku seseorang, sejatinya cuma merekayasa operasional produk yang bersangkutan, yang kalo make pandangan dosen ini, cukup susah kalo misalnya tujuan perancangan ganggang pintunya itu untuk mengubah kebiasaan orang yang males ngunci pintu kamar mandi. perilaku dalam kaitannya langsung dengan kebiasaan individu yang dibangun oleh pola fikirnya, bukan sekedar cara operasional produk oleh seseorang. dan soal budaya yng gw tangkep dari beliau sih lebih sebagai tata nilai dan pola fikir. apalagi kalo liat gaya hidup dan lingkungan. trus juga masalahnya kalo kita mau bandingin, referensi budaya yang kita maksud juga kadang kurang cerdas, gara gara kecenderungan kita untuk nggak ngeliat kebudayaan dalam dimensi waktu sejarahnya. kita masih cenderung melihat budaya dalam satu waktu yang tertentu, yang kemungkinan kena proses oversimplified atau overglorified. menurut gw gitu sih, dan gw juga masih bingung hehe,

  2. hatur nuhun juga buat balasannya. kalau boleh mau balas komentar lagi ya hehehe

    Nah setuju dengan apa yang lo utarakan, mengenai contoh yang gue berikan itu lebih menjurus ke dalam operasional. Apa yang gue tangkep disini adalah mayoritas definisi desain sebagai problem solver saat kini masih menjurus ke dalam output yang berupa hal yang tangible, tapi yang berbentuk intangible masih belum tersorot. Mungkin secara sadar atau tidak sadar, saat mendesain kita ingin membuat calon user untuk melakukan perilaku, melakukan reaksi sesuai dengan apa kita desain, dengan kata lain kita juga mendesain perilaku saat mendesain objek. Desain saat ini masih dianggap sebagai suatu aksi atau suatu alat, bukan menjadi suatu mindset, yaitu cara berpikir untuk memanusiakan suatu solusi.

    Kebanyakan masyarakat melihat desain masih berharap seperti alat dari Doraemon, yang secara instantly memecahkan masalah. Memang ada beberapa desain yang seperti itu, tapi ada juga desain yang baru kerasa setelah kurun waktu. Seperti yang diungkapkan di atas, dalam mendesain objek kita juga mendesain perilaku, tidak semua perilaku yang berubah bisa instantly merubah mindset.
    Contohnya seperti di Bandung sekarang. Kang Emil mendesain ulang taman – taman di Bandung, yang membuat perilaku masyarakat Bandung untuk jadi lebih nongkrong di taman karena nyaman. Dampak yang terjadi sekarang adalah mindset masyarakat Bandung untuk berkumpul kini mulai berubah sedikit demi sedikit, dari berawal nongkrong di Mall, trotoar, kini sekarang berubah nongkrong di Mall. Coba contoh lainnya seperti di Mesjid di alun – alun. Dalam kasus ini, desain berfungsi sebagai alat untuk menaikkan value. Bila desain sebagai alat untuk menaikkan value bisa berdampak seperti ini (baru sebagian kecil dari peran desain), bagaimana dengan desain yang bisa mendesain perilaku literally ?

    Soal tentang budaya, gue setuju dan baru menyadari juga selama ini kita melihat atau mereferensi suatu budaya halam dalam satu kurun waktu tertentu. Gue juga suka gemes lihat bagaimana proses glorifisisasi (punten agak ngarang kata – katanya hahaha) suatu budaya yang menurut gue dangkal. Kalau dari pandangan gue, cara untuk mengadaptasi budaya yaitu harus memahami alasan, perilaku mengapa suatu objek yang diadaptasi bisa terbentuk. Contohnya seperti saat orang membuat angklung, dibanding berpikir melihat objek angklung seperti apa, motifnya bagaimana, fungsinya apa, tapi lebih berpikir mengapa angklung ini dibuat, bagaimana angklung dibuat. Dengan pendekatan ini gue lebih bisa memahami grassroots, mindset dibalik angklung ini, dan secara otomatis juga gue dapat memahami latar belakang budaya di dalam suatu objek angklung.

  3. Mantep tulisannya, mumpung rame komen disini. Sepertinya dosen antropologi mencoba menjelaskan lebih luas lagi bagaimana dinamisnya suatu proses kebudayaan. Saya coba ingin membahas fenomena kebudayaan yang terbentuk dari berbagai disiplin ilmu, kebetulan yang lagi dibahas disini tentang desain.
    Memang beberapa tahun kebelakang, ego setiap disiplin (dari social science sampai ke natural science) sangat tinggi, dan menimbulkan kelompok-kelompok yang membuat jurang perbedaan dan kelompok-kelompok antar keilmuan. Desain, sebagai disiplin ilmu, tidaklah juga semudah proses pembelajaran di DP yang selalu berangkat dari masalah, melihat fenomena budaya, menyuntikkan penemuan hasil survey pada konsep, sketsa, bikin prototype, dan beres. Pola pemikiran ini yang selalu diajarkan dari tingkat dua sampai T.A dan berakar pada pemikiran-pemikiran mahasiswanya dan akhirnya banyak yang merasa dapat menyelesaikan suatu permasalahan dalam satu bentukan desain. Banyak faktor-faktor lainnya yang seharusnya melihat suatu permasalahan secara holistik dan mendalam.
    Balik lagi pada pembahasan awal, ada satu pemikiran yang berkata bahwa perubahan suatu budaya tidaklah digerakkan oleh satu atau dua disiplin, namun semuanya saling mempengaruhi, tarik menarik, dan bergerak secara simultan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s