Melihat sejarah sebuah bangsa melalui obyek

Secara pribadi dari dulu saya cukup berkeyakinan bahwa tiap obyek mengandung narasinya masing masing. terlepas dari  variasi signifikasi dan desirability-nya secara ekonomis, narasi selalu terkandung dibalik eksistensi sebuah obyek. Tapi baru kali ini saya menemukan justifikasinya secara riil, selain tentunya di jabarkan dengan sangat baik dan lugas.

Pada awal bulan desember lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pameran desain di kawasan M+ west kowloon cultural district, salah satu kawasan seni dan desain yang sedang dibangun di daerah kowloon hongkong. Menariknya, pada pameran ini panitia menyiapkan tour guide dengan speaker berbahasa inggris untuk setiap turis. dan dilihat dari kecakapan dan pengetahuan speaker yang mendampingi kunjungan saya pada waktu itu, kemungkinan besar mereka memiliki latar belakang pendidikan arsitektur/desain.

dsc_0231
poster pameran

Saya cukup beruntung untuk bergabung dengan pemandu tur tepat pada saat ia sedang memberikan penjelasan pada panel pertama. Pada panel tersebut, terpajang beberapa obyek tradisional yang berasal dari jepang. Terlihat bagaimana pada tiap proses pembuatan obyek obyek tradisional tersebut (furnitur, tableware, interior) secara konsep selalu berkaitan dengan upaya simbolisasi nilai nilai transendental yang berlaku pada masyarakat setempat, yang kebetulan banyak diambil dari konsep budha dan zen. Yang mana cukup banyak prioritas yang berubah saat membandingkannya dengan panel selajutnya yang ber setting periode economic boom jepang selepas perang dunia 2. Dimana pertimbangan efisiensi dan efektifitas indsutrial terlihat sangat dominan pada obyek obyek tersebut, meski aspek filosofis tidak sepenuhnya dihilangkan. Mungkin bisa dikatakan bahwa aspek aspek filosofis yang berangkat dari nilai tradisional pada era ini lebih banyak mengalami proses abstraksi, yang kemungkinan merupakan hasil kompromi terhadap berbagai aspek yang lain. Seperti kita lihat pada branding olimpiade 1960.

Tur kemudian berlanjut pada saat dimana india sedang sibuk melakukan pembangunan dalam negeri setelah memperoleh kemerdekaannya. Menariknya, dalam proses pembangunan ini, pemerintah india bekerjasama dengan salah satu arsitek kondang Le Cobusier. Dimana ia banyak merancang berbagai macam proyek pembangunan, mulai dari yang berskala bangunan, hingga furnitur dan lampu. strategi pembangunan yang menurut saya cukup menarik, apalagi jika kita melihat pada konteks waktu dan tempat pelaksanaannya.

Kemudian kami melihat ke kontrasan budaya obyek Cina pada masa sebelum dan setelah pemerintahan komunis. Yaitu bagaimana obyek obyek pada masa sebelum komunis tampak lebih kaya dan ekspresif, jika dibandingkan dengan obyek obyek setelah berlangsungnya pemerintahan komunis, yang nampak diorganisir dan kental akan konten propaganda. Seperti pada beberapa produk tableware yang sebelumnya penuh akan ornamen floral, yang kemudian digantikan oleh pesan propaganda, dengan bahasa estetik nya yang khas. Mungkin, terlepas dari keasingan bahasa estetika yang dikonstruksi oleh pemerintah komunis ini melalui berbagai macam medium desain tersebut, hal ini merupakan suatu lahan yang subur bagi perkembangan desain komunikasi. Karena saya ingat salah satu poster propaganda yang menarik perhatian saya, dimana terdapat dua anak kecil (laki laki dan perempuan) yang sedang berada di meja makan rumah. Keduanya terlihat riang dan salah satunya terlihat membuka koran sedang yang lainnya berdiri dibelakang antusias memperhatikan. Pada halaman pertama koran sendiri terlihat foto para tentara yang nampak memenangi sebuah pertempuran. Saya sendiri tidak dapat membaca satupun huruf yang ada pada poster tersebut, namun rasanya saya bisa menangkap pesan apa yang kiranya ingin disampaikan.

Panel selanjutnya bercerita mengenai sejarah pembuatan obyek yang terjadi di Hongkong. Sesuai dengan sejarah panjang antara Hongkong dan Cina, dimana banyak kita temukan upaya Hongkong untuk mendobrak berbagai kekakuan Cina, hal tersebut cukup terlihat pada berbagai obyek yang dihasilkan di Hongkong. Mulai dari produk produk plastik yang bening sepert kaca dengan berbagai variasi warna, hingga berbagai karya grafis yang bernuansa modernis. Lucunya salah satu produk yang dipamerkan disitu adalah bola plastik yang berwarna belang merah putih seperti lolipop. Satu obyek yang cukup familiar bagi anak laki laki Indonesia yang suka bermain bola pada tahun 90-an. Ternyata bola itu merupakan produk industri Hongkong yang cukup ikonik, dan menjadi populer di Hongkong pada zaman satu generasi di atas saya, yang saya ketahui karena ketika pemandu tur menjelaskan mengenai produk tersebut, bapak bapak paruh baya kelahiran Hongkong yang mengikuti tur terkekeh kekeh mengenang masa kecilnya bermain dengan bola belang belang tersebut.

dsc_0236-2
exterior gedung eksibisi pameran ‘shifting objective”

Jikalau pada masa kuliah dulu dosen saya selalu menekankan pentingnya membangun cerita ketika kita sedang merancang sebuah produk, setelah mengikuti tur ini baru saya dapat memahami bahwa cerita atau narasi dibalik sebuah desain ternyata dapat disingkap dan pada akhirnya akan berkaitan dengan berbagai aspek lain yang lebih besar dan luas.

Dan seiring dengan banyaknya pengetahuan mengenai politik yang akhir akhir ini saya tangkap, menurut saya narasi terbesar adalah narasi politik. Dengan kedalaman konten dan jangkauan medium yang begitu luas, politik merupakan sebuah medium yang menjangkau seluruh audiens dan memiliki daya rekayasa yang besar. Seperti tercermin dari besarnya peran narasi politik dalam menentukan dimensi kesejarahan desain yang membentuk kebudayaan benda masing masing negara pada pameran tersebut.

*sayangnya karena tidak diperbolehkan mengambil foto didalam pameran, jadi tidak banyak foto yang dapat saya upload

Iklan

Diterbitkan oleh

dudin abdurrahman

moslem.bandung.designer in making.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s