Kowloon Walled City : Sebuah Romantisme Dystopia

IMG_20161203_140426_HDR
ilustrasi kondisi kehidupan di Kowloon Walled City

Terdapat sejarah vernakularisme yang menarik pada salah satu sudut kota Hongkong yang padat dan modern. Kota ini menjadi saksi keberadaan Kowloon walled city. sebuah kawasan pemukiman yang muncul dan berkembang secara vernakular semenjak awal abad 20, hingga penghancurannya pada tahun 1994. Berlokasi di kawasan bekas benteng milik pemerintah Cina yang berada di wilayah Hongkong yang pada saat itu secara administratif diserahkan kepada kerajaan Inggris, Kowloon Walled City menjadi tujuan utama para imigran dari Cina yang ingin mengadu nasib di Hongkong. Demi mengharapkan penghidupan dan masa depan yang lebih baik, mengingat pada saat itu pengaruh partai komunis pada pemerintahan Cina dirasa semakin kuat.

Yang menjadi menarik, karena secara geografis kawasan yang secara hukum milik pemerintah Cina ini dikelilingi oleh wilayah Inggris, baik pemerintah Cina maupun Hongkong terlihat lepas tangan dalam mengelola wilayah ini. Yang pada gilirannya mengubah wilayah ini menjadi semacam “kota tak bertuan”. Dimana bahkan justru para gangster dan triad lah yang akhirnya berkuasa.  Yang dengan leluasa menjalankan dan mengembangkan bisnis gelap mereka. Di sisi lain, pertambahan jumlah pemukim yang tidak terkontrol dan wilayah yang terbatas, juga mengubah wilayah ini menjadi pemukiman dengan tingkat kepadatan tertinggi di dunia. Sebuah rekor yang hingga saat ini belum terkalahkan. yaitu sebanyak 27.000 orang per meter persegi.

kowloon908
via Archdaily

Kombinasi faktor faktor ini pada akhirnya membentuk sebuah fenomena kehidupan sosial yang unik di Kowloon Walled City. dalam segala keterbatasannya, utamanya fasilitas air dan listrik, nyatanya bermunculan beraneka jenis usaha dalam kawasan ini. Mulai dari dokter gigi hingga pabrik mie. Meski dengan catatan dan profesionalitas yang cukup mengkhawatirkan. Praktek dokter gigi sebagai contoh, banyak yang tidak memiliki sertifikat. Sementara pabrik mie sendiri yang berada pada bilik bilik gelap sempit dan kotor tersebut, terlihat tak acuh dengan aspek higienitas operasional produksinya. Atau jika ingin melihat contoh yang lebih unik lagi, terdapat satu taman kanak kanak di dalam Kowloon Walled City yang melakukan shift tidur siang dan bermain bagi anak didiknya. Akibat banyaknya peserta didik serta keterbatasan ruang.

Pada kenyataannya, meski secara sekilas kehidupan di Kowloon Walled City terkesan begitu mengerikan, para mantan penghuninya merasa bahwa ada hal hal lain yang mereka kenang semasa tinggal disana. Kesaksian para mantan penghuni yang direkam lewat video yang saya saksikan di taman bekas Kowloon Walled City ini selanjutnya membuat saya merenungkan kembali tentang kemampuan luar biasa manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. Yaitu bagaimana pada kondisi kehidupan seekstrem apapun, pada akhirnya sangat sulit untuk menilai kualitas kehidupan personal, jika hanya berdasarkan data empiris maupun teori yang masih harus dikritisi. Yang pada akhirnya menggiring saya pada pertanyaan mengenai standar standar layak fasilitas hunian yang selama ini kita pegang.

Jika mengacu pada pendapat Thomas L. Friedmen yang menyatakan bahwa karakteristik masa depan adalah Hot, Flat dan Crowded, bisa dengan mudah kita pahami mengapa gambaran mengenai Dystopia pada film film barat cukup sering meminjam image Kowloon Walled City. tempat tinggal vertikal yang kumuh, padat, panas serta standar hidup yang jauh dari kata layak. Yang kemudian sering dengan mudah kita amini begitu saja, atau bahkan kita bayangkan sebagai gambaran masa depan yang realistis, utamanya karena kondisi sosial saat ini yang semakin tidak menentu, mengkhawatirkan dan pesimistis. Namun justru dengan menilik dimensi romantisme para mantan penghuni Kowloon Walled City dalam merefleksikan pengalaman hidupnya tinggal di tempat yang begitu ekstrem tersebut, ada aspek lain yang sebenarnya masih dapat kita temukan kembali. Irasionalitas romantisme dalam mengolah daya persepsi dan rasa, tidak menutup kemungkinan untuk dapat kita jajali sebagai salah satu dimensi untuk menentukan parameter kelayakan yang lebih ideal, manusiawi dan tentunya, realistis.

mungkin.

*sedikit video intro tentang Romantisme

IMG_20161203_140339_HDR
miniatur Kowloon Walled City

 

Iklan