Mana yang lebih dulu, desainer pintar atau konsumen pintar?

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya sedang dalam masa magang, saya diajak oleh bos tempat saya magang untuk ikut bersama beliau berkumpul dengan rekan rekannya sesama desainer muda. Di mal senayan city itu saya lantas disuruh oleh beliau untuk berkunjung ke salah satu toko, yang saya sendiri sebagai anak kampung baru pertama kali tahu, KARA namanya.

Sesudah beberapa saat berkeliling di toko tersebut, saya lantas mengobrol dengan bos saya. Hingga pada akhirnya terucap pertanyaan dari saya, “sebenarnya siapa yang harus dididik terlebih dahulu? Pasar atau desainernya? “

Bos saya kemudian dengan ringan memberikan argumennya bahwa secara logika, bahwa semua objek yang berada dipasar pada saat ini, tentu tak lepas dari pengaruh desainer yang merancangnya. Dan para konsumen, pada akhirnya hanya memilih dan mengkonsumsi barang yang ada, yang pada tahap selanjutnya secara tidak langsung juga turut membangun preferensi dan trend yang terjadi diantara para konsumen pasar. Sehingga jelas bahwa desinerlah yang seharusnya memiliki tanggung jawab terbesar mengenai tren dan selera konsumen yang terbangun di pasaran pada saat ini.

Dilain waktu, ketika sedang berkunjung di salah satu perusahan percetakan di Jepang, yang juga banyak berinovasi bidang IT, pak irvan noeman yang pada saat itu kebetulan berada cukup dekat dengan saya, berujar “ disini, semuanya dituntut untuk membuat pisang hijau .” saya menyimak dengan seksama, dan berusaha sekeras mungkin untuk mencerna dan memahami maksud dibalik pernyataannya. Mencoba mengingat kembali materi presentasi yang beliau bawakan di kampus beberapa minggu sebelumnya.

Berdasarkan ingatan saya, pak Irvan menganalogikan desain yang inovaitf sebagai pisang hijau, sedangkan desain yang sudah ramai dipasaran sebagai pisang kuning. dan layaknya pisang sebenarnya, pisang hijau seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi pisang kuning, seperti desain inovatif yang hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi umum dipasaran. Dan sebagai desainer, kita dituntut untuk dapat merumuskan sebuah produk inovatif, yang ketika diluncurkan berada dalam kondisi setengah hijau dan setengah kuning. cukup inovatif namun tetap mampu untuk dengan cepat diterima dipasaran.

Saya kemudian menduga, bahwa maksud penyataan beliau adalah proses perancangan desain di Jepang, sebuah Negara dengan tingkat penguasaan teknologi yang tinggi serta indeks pembangunan manusia yang baik, sudah berada dalam satu kondisi yang demikian kompetitif. Yang pada akhirnya hanya menyisakan inovasi sebagai kunci untuk bersaing  bagi perusahaan. sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar yang ada pada saat ini. Mungkin lebih singkatnya, orang jepang saat ini sudah cukup banyak yang bisa makan pisang yang masih hijau.

Dari kedua obrolan tersebut, saya coba Tarik benang merah mengenai hubungan antara desainer, pasar, dan kompetitor di pasar. bahwa alur produksi, sebagaimanapun padat riset dan datanya, pada esensinya selalu memaksa konsumen untuk sekedar menerima dengan pasif produk produk yang diklaim sebagai solusi dan kebutuhannya. Akan tetapi patut untuk juga diperhitungkan, karakteristik pasar serta para pesaing perusahaan, dalam kaitannya dalam alur produksi tersebut.

Jika seadainya orang orang dipasar anda berjualan pisang masih lebih suka pisang yang setengah hijau dan setengah kuning, maka tetaplah pada pola pengantaran pisang anda, yang memetik ketika masih hijau, dan menjual ketika sudah menguning.

Tapi bila orang orang dipasar sudah banyak yang dapat mengunyah pisang ketika masih hijau, maka ubahlah cara berfikir dan pola dagangan anda. Karena para penjual lain pasti juga berlomba lomba untuk menawarkan produk yang konsumen minta.

Pada akhirnya siapa yang harus dituntut pintar terlebih dahulu? Desainer atau konsumen? Mungkin sebaiknya harus kita sepakati terlebih dahulu definisi pintar yang kita bicarakan. Sebagaimana produksi dimulai dari desainer kepada konsumen, mungkin lebih tepat apabila kita katakan bahwa menjadi cerdik merupakan syarat mutlak bagi seorang desainer. Pintar dalam menganalisa dan mengakumulasi berbagai faktor pertimbangan yang ada di pasar, dan mampu secara cerdik melihat peluang dan merancang strategi produksi produk yang mampu diterima di pasar. karena pada kenyataanya karakteristik konsumen lebih cenderung bersifat akumulatif. Bahkan tak jarang, perubahan signifikan di pasar dan karakteristik konsumen juga lebih banyak didorong oleh produk produk yang dimunculkan oleh desainer.

Desainer, adalah pewujud akumulasi abstrak berbagai faktor yang terjadi di masyarakat. dan bahkan kita sendiri cendrung menyadari suatu hal, baru ketika ia telah diwujudkan dalam satu objek maupun diskursus.

Iklan